Langsung ke konten utama

Menggenggam Dua Barang dengan satu tangan


Ada kalanya kita dihadapkan pada sebuah realita pahit. Kita mencoba untuk bergerak bebas, tapi sekat ruang dan batas masih mengganggu. Saat ini saya merasakannya. Padatnya jadwal kegiatan yang ada membuat saya harus berfikir ulang mengatur yang ada. Padat bukan berarti banyak kegiatan. Bisa jadi hanya sedikit kegiatan, tapi di salah satu kegiatannya menyita perhatian yang berlebih. Sebenarnya untuk menggenggam satu saja amat sulit, lalu bisakah menggenggam dua barang dalam satu tangan.

Untuk menggenggam banyak hal, ada yang namanya antrian. Selesaikan satunya baru lanjut lainnya. Ini solusi yang tepat menurut sebagian orang. Tapi ketika dipraktekkan tidak akan mudah.

Tenaga kita sudah habis di tugas sebelumnya. Apa bisa berlanjut? Masalah tidak hanya disitu saja. Antrian yang sudah tersusun rapi adakalanya harus hancur karena prioritas yang harus diubah. Mungkin saat ini kegiatan yang sedang dilakukan adalah prioritas utama. Disaaat kegiatan itu belum selesai, takdir prioritas memutuskan berganti. Ini benar-benar menguras psikis kita.

Satu tahapan penting ketika padatnya beban hidup kita melanda, maka wajib memahami ayat alqur-an ini secara seksama

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....
(QS Al-Baqarah : 286)

Banyaknya beban bukan berarti kita tidak bisa menyelesaikannya, karena jelas bahwa beban yang diberikan kepada kita itu pasti sanggup kita pikul.

Ironi dan pertanyaan membuncah ketika memahami ayat itu. Jika setiap manusia diberi beban yang sanggup dipikul, kenapa banyak yang gagal? Ini pertanyaan yang sering terlontar, bahkan sayapun sering bertanya.

Tapi jika difahami lebih lanjut, ayat ini mengandung makna yang amat dalam. Mari kita baca ulang ayat tadi secara utuh

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

apa yang bisa ditangkap? Yang terlihat jelas sekali bahwasannya ketika ada ujian berat dan beban sedang begitu penat maka kita harus berdoa. Setelah berdoa, lalu harus apa? Coba cermati lagi!

Kita mendapat pahala dari apa yang kita usahakan, oleh karena itu maka kita wajib berusaha lebih keras. Di Ayat itu juga ditunjukkan bahwa kita harus belajar dari orang-orang sebelum kita. Jangan sampai pengalaman buruk masa lalu terulang kembali. Itulah pentingnya berfikir.

Kembali pada pertanyaan apa benar beban yang kita pikul itu sesuai kemampuan kita? Jawabannya sudah tentu, tinggal bagaimana kita mengelola beban itu.

Mari kita analogikan. Untuk bisa lulus kuliah maka saya harus menjalani serangkaian ujian akhir dan skripsi. Apakah ujian akhir itu diluar batas kemampuan saya? Pasti dosen dan masyarakat sekitar mengatakan bahwa ujian itu sudah sesuai kepasitas seorang mahasiswa yang ingin lulus. Nah begitu juga dengan beban padatnya hidup ini. Beban ini pasti bisa kita pikul dengan caranya masing-masing.

Terjawab sudah semuanya. Bahwa menggenggam dua barang dengan satu tangan itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Kita hanya perlu berfikir kreatif berbeda dari cara sebelumnya. Jika sebelumnya hanya membuat antrian tugas untuk dikerjakan. Kita bisa membawa semuanya sekaligus. Bukankah untuk menggenggam dua barang sekaligus kita hanya butuh sebuah keranjang tas...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya Iman Kok Lemah? Ya Saya Memang Lemah

Belakangan ini muncul istilah "punya iman kok lemah", entah darimana asalanya dan siapa yang memulai. Harus disadari antitesis dari pernyataan ini adalah "Imanku kuat kok". Pernyataan pertama dan pernyataan kedua punya arti yang amat bertentangan. Permasalahannya adalah haruskah saya mengungkapkan kata "Iman saya kuat kok"? Salah satu perilaku yang tak disukai oleh Allah adalah perilaku sombong. Ada banyak contoh perilaku sombong salah satunya adalah memamerkan apa yang dimilikinya. Jika kita mengatakan "Iman saya kuat" ini sudah mengindikasikan bahwa muncul sombong dalam diri kita. Kita menyombongkan kadar keimanan dalam diri kita. Terlebih lagi bahwa keimanan kita sebenernya tidak dapat kita hitung. Jadi kita menyombongkan sesuatu yang tidak kita miliki. Lalu kita harus menjawab apa terhadap pertanyaan "Punya Iman Kok Lemah"? Jawaban yang tepat adalah "Ya memang iman saya lemah". Tak ada yang memiliki keimanan ya...

Setelah Turun Hujan

Setelah Turun Hujan merupakan sebuah project hasil sisi lain dalam diri saya. Selama ini saya selalu berada dibalik layar untuk urusan musik, menjadi penulis lagu dan manager untuk band Oneday Jogja . Bisa dibilang ini adalah project iseng saya. Mengambil jalur hiphop yang khas dengan syair tema sehari-hari, lagu setelah turun hujan bercerita tentang bahwa akan ada momen indah setelah kesedihan, seperti sebuah pelangi yang akan tampak setelah turun hujan. Download : Dropbox | Soundcloud bukan sebuah tangisan, setelah turun hujan akan ada pelangi, yang cerahkan hari mendungpun berganti, datanglah mentari hadirkan ceria, tuk laanjutkan hari hari-harimu kini lewatilah lagi sebuah babak baru, dalam hidupmu mari mulai lagi, senyum ceria ini mari mulai lagi, senyum ceria ini langkah kaki lewati hari tetap tersenyum dan jangan menyerah tetap bahagia dan terus percaya mendukungkungmu dari belakang, terus berdoa percayalah saja lewati semua aral merintang, itu pasti ada ...

Berjuang Mulai Dari Newbie (Review Kdrama Misaeng)

Seperti bayi yang baru lahir dirinya tidak bisa langsung berdiri. Butuh waktu dan proses yang tidak sebenetar sampai seorang bayi bisa jalan. Seseorang yang ahli dulunya juga bukan siapa-siapa. Mengikuti arus, melawan terjal yang menghalangi dan pada akhirnya terus menjalani rutinitas. Ada satu genre yang saya suka dari sebuah Kdrama yaitu sebuah genre yang bercerita tentang "real life". Memang kdrama kebanyakan hanyalah sebuah fiksi, namun sebuah cerita yang diambil dari refleksi kehidupan nyata akan menjadi sebuah kisah menarik. Misaeng, kali ini drama ini begitu menarik minat saya untuk terus menonton hingga akhir. Jika biasanya saya akan membuat review setelah menonton hingga habis, tidak dengan drama ini. Kisah ini begitu menarik sehingga layak untuk didahulukan menjadi sebuah review. Bercerita tentang pemuda yang berkerja sebagi karyawan Traine. Setelah sebagian hidupnya dihabiskan untuk mengejar impian menjadi pemain baduk (Go) profesional akhirnya harus bisa r...